Jumat, 11 April 2014

Our LO(ST)VE Story - BAB III

BAB III
Surat Cinta? Hmm..

                Yak, dan malam ini aku benar-benar harus memeras otakku.  Semenjak dua jam yang lalu aku masih belum menuliskan apa-apa di kertas. Seumur-umur aku belum pernah membuat surat cinta untuk siapa pun. Apalagi ini untuk dia. Aku berusaha mencari kata-kata yang indah, tapi tidak norak dan berlebihan.
             
                  Kuambil handphoneku, kutekan speed dial 2. Setelah nada sambung ketiga, terdengar suara dari seberang telepon.

“Riooooo,kamu udah mau tidur ya?”

“Bukan udah mau tidur, Ve, tapi udah tidur. Kenapa telepon malem-malem?”

“Hehehe, sori Yo, aku bingung soalnya mau nanya ke siapa. Makanya telepon kamu.”

“Hadeh, iya tau kok, siapa lagi yang mau kamu gangguin malem-malem gini kalo bukan aku.”

“Makanya itu Rio yang paling cakep, paling baik, bantuin aku buat surat cinta dong.”

“Heh, buat apaan? Emangnya aku keliatan kayak orang yang suka nulis surat cinta ya?”

“Ya nggak sih Yo, kasih masukan aja, aku harus nulis model apaan biar gak keliatan norak kalo dibaca sama cowok. Tugas mos nih. Nyebelin hari terakhir malah tugasnya aneh-aneh aja.”

“Ooh, tulis lirik lagu aja Ve, biar gampang.”

“Eh iya ya Yo, aduuh kamu tuh emang yang paling super deh, tapi lagu yang  apa Yo?”

“Cari sendiri aja Ve, aku udah super ngantuk nih. Kamu juga jangan tidur kemaleman Ve.”

“Hehehehe, iya Rio sayang, selamat tidur ya, mimpi indah, maaf udah gangguin kamu tidur. Makasih ya Yo.”

                Rio memang yang paling bisa aku andalkan. Oke, sekarang tinggal mencari lagu yang kira-kira cocok. Ku ambil majalah sekolahku, barangkali aku bisa menemukan inspirasi di situ. Di halaman paling belakang, aku menemukan lirik sebuah lagu cinta. Sepertinya lirik itu bisa kutulis dalam tugas surat cinta ini.

 ***

Ah, pasti Ve mau mengirimkan surat cintanya untuk mas Titto. Tidak kupungkiri perasaanku sedikit tersayat mendengar kabar itu. Entah sejak kapan aku menyayangi Ve melebihi sahabat. Namun aku tahu bagaimana perasaannya pada mas Titto. Tidak mungkin tiba-tiba mengungkapkan perasaanku padanya. Apalagi sekarang dia bersekolah di sekolah yang sama dengan mas Titto. Aku mengenal mas Titto sejak aku kecil. Seringkali dia melihat aku bersama Ve. Mungkin itu yang membuat dia berpikiran bila aku dan Ve berpacaran.

Ku tatap tumpukan kertas di meja belajarku. Semenjak aku mulai memahami perasaanku untuk Ve, aku mulai menuliskan surat untuknya. Semua hal yang tidak bisa aku ungkapkan secara langsung padanya. Namun semua surat-surat itu hanya akan selalu berada di kamarku.  Aku tidak mau persahabatanku dengan Ve rusak bila aku mengungkapkan semua rasaku padanya. Satu-satu hal yang bisa aku lakukan hanyalah selalu berada di sisinya. Walaupun mungkin aku akan merasakan sakit karena sikap pengecutku ini.


***

“Ve, mana liat suratmu. Jadinya kamu nulis buat siapa?” Tanya Viona.

Aku tersenyum simpul. Aku masih tidak yakin akan mengumpulkan surat itu. Bagaimana bila Mas Titto menganggap itu serius dan memberikan jawaban padaku? Tenang Ve, dia pasti hanya akan menganggap itu hanyalah tugas semata.

“Untuk Kak Steve dong. Kamu nulis untuk siapa Na?” tanyaku. Aku tidak mengerti kenapa aku memilih berbohong pada Viona. Ya sudah lah. Surat itu tidak akan dibaca di depan umum kan.

“Aku nulis untuk kak Tera, hehehe. Ya siapa tahu dia bakal bales suratku.” Ujar Viona.

“Hu, dasar ngarep nih.” Aku tertawa melihat sikap Viona.

“Selamat pagi semuanya. Udah pada siap surat cintanya? Jangan lupa di amplopnya ditulis nama senior yang mau kalian kasih suratnya, ya. Foto kalian juga jangan ketinggalan, barangkali senior yang kalian berikan surat itu ingin berkenalan langsung dengan kalian.” Kak Mina bertanya sembari tersenyum.

“Kak, tapi suratnya nggak akan dibaca di depan umum kan?” Tanya Reina, ketua kelompokku.

“Tenang aja, nggak kok. Nanti surat-surat itu akan langsung kita kasihkan ke masing-masing penerimanya. Ayo sekarang maju satu-satu, suratnya dikumpulin di kotak ini.” Kak Mina menggoyang-goyangkan kotak yang ia bawa.

Kupandangi suratku. Aku belum menuliskan nama penerima di amplop ini. Cepat-cepat kutuliskan nama ketika Viona sedang maju mengumpulkan suratnya. Aku pun maju perlahan. Segera kumasukkan suratku pada kotak itu.

Walaupun  ini hanya sekedar tugas, namun rasanya benar-benar seperti mengirim surat sungguhan untuk dia. Semoga dia tidak menganggap ini serius. Bisa mati kutu aku bila dia membahas surat itu di depanku.

***

DI ruang OSIS

“Semua suratnya udah dibagi ya. Jadi yang dapet paling banyak, Steve dapet 56 surat, Tera dapet 49 surat, Titto dapet 45. Jangan lupa dibaca satu-satu. Mungkin aja nanti ada yang bisa jadi pasangan gara-gara surat cinta ini. Hahaha.” ujar Meisya sembari tertawa pelan.

Aku mendengus. Empat puluh lima surat harus aku baca satu persatu? Seperti aku masih ada kelebihan waktu saja. Tapi sepertinya aku harus menghargai mereka yang sudah bersusah payah menulis untukku. Aku pun segera meninggalkan ruang OSIS. Aku menuju ke parkiran motor untuk mengambil motor kesayanganku.

Di gerbang sekolah, kulihat Ve sedang duduk bertopang dagu. Sepertinya dia masih menunggu jemputan. Ketika aku baru akan menghampirinya, kulihat jeep hitam menepi. Ve pun segera masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi Ve dijemput oleh Rio.

Semenjak dulu aku mengetahui bahwa Rio adalah sahabat Ve. Namun, sikap mereka berdua lebih seperti sepasang kekasih daripada sepasang sahabat. Kuakui aku memang memiliki ketertarikan lebih pada Verisya. Ketika kulihat dia menjadi yuniorku, ada bagian dari hatiku yang merasa sedikit gembira. Melihatnya setiap hari, dengan rambut kucir duanya, membuat hari-hariku semakin lebih bersemangat. Seringkali aku sengaja masuk ke kelasnya hanya untuk melihatnya. Aku pun penasaran siapa penerima surat darinya.

Sesampainya di rumah, aku segera membuka surat-surat itu. Sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama. Sebagian dari mereka hanya menuliskan kalimat-kalimat pendek seperti, I love You, Kak, dan sebagainya. Beberapa dari mereka memberikan foto-foto yang kuakui lumayan cantik. Namun entah kenapa aku tidak merasa tertarik. Sepucuk surat dengan amplop biru menarik perhatianku. Aku menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum. Aku tidak habis pikir, anak SMA masih menggunakan amplop bergambar Mickey Mouse.

Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku tlah terpaku oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
Namun kau masih terdiam membisu

Sepenuhnya aku..ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu
Setulusnya aku ..akan terus menunggu
Menanti sebuah jwaban tuk memilikimu

Semoga kau tau isi hatiku
Padi-Menanti Sebuah Jawaban
Maaf Kak, aku cuma bisa nulis dari lirik lagu, tapi lirik lagu itu benar-benar sesuai sama yang aku rasain ke Kakak.
               
With Love,
Verisya


                Aku terpaku menatap barisan kata itu. Verisya, menulis surat untukku. Ve menulis surat ini benar-benar sesuai dengan perasaannya, seperti yang dia tulis, atau hanya untuk tugas saja? Aku menghela nafas panjang. Ku ambil foto dari dalam amplop, dia terlihat sangat cantik di foto itu, terlihat begitu ceria.

BAB II