Senin, 18 Agustus 2014

Awarding Event #BulanNarasi,,,dan Alhamdulillah,,masih disuruh belajar lebih banyak lagi..

Jadi ceritanya, awal bulan Mei kemarin aku ikut #BulanNarasi. Bulan Narasi itu tantangan buat para penulis untuk menyelesaikan novel mereka, minimal 150 halaman dalam waktu 30 hari, start tanggal 1 Mei 2014, dan tanggal 30 Mei 2014, udah harus diposting di Nulisbuku.com.

Bulan Narasi sendiri digagas oleh Plot Point dan bekerjasama dengan Nulisbuku.com.

Selama ini sih belum pernah sama sekali buat novel. Ada sih 2 cerita yang niatnya pengen aku buat jadi novel, tapi masing-masing belum ada yang berhasil ditulis lebih dari 10 halaman. :p

Tapi Alhamdulillah,,berhasil nyelesaiin tantangan dari #BulanNarasi dan novel pertamaku akhirnya selesai.

Setelah nunggu berbulan-bulan, akhirnya pemenang dari #BulanNarasi diumumin tanggal 16 Agustus 2014 kemarin, dan Alhamdulillah belum menang. :D

Menulis bukan suatu proses yang instan. Menuangkan semua imajinasi yang ada di kepala ke dalam sebuah tulisan menurut aku gampang-gampang susah.Kadang stuck di kalimat itu-itu aja. Mungkin referensi bacaanku kurang banyak kali ya. Aku orang yang suka buat drama didalam pikiranku sendiri. Kadang kalau lagi dijalan, ide itu ngalir gitu aja, tapi giliran di depan laptop, langsung deh ide yang tadi menguap, hilang.

Sekarang aku selalu berusaha nulis semua ide yang tahu-tahu melintas di otak. Kalo lagi megang kertas, ya ditulis dikertas, tapi kebanyakan aku tulis di hp.

Aku yakin Allah selalu ngasih kesempatan kita di waktu yang tepat. Jadi kalau sekarang ini belum jadi kesempatanku, berarti masih belum waktunya dan aku masih harus belajar banyak lagi, memperbanyak referensi bacaan. Siapa tahu nanti aku bisa nulis kayak Lima Sekawan-Nya Enid Blyton, Harry Potter-nya J.K Rowling,  The Hunger Games-nya Suzanne Collins, The Lord of The Ring-nya J.R.R Tolkien.

Aamiin..Aamiin..

Selasa, 03 Juni 2014

Read..Read..Read....

Sejak kecil aku suka baca buku. Koleksi buku sejak kecil hingga sekarang mungkin sudah mencapai ratusan buku. Mungkin bila dihitung-hitung, total uangku yang aku habiskan untuk belanja buku jauh lebih banyak daripada untuk membeli baju.

Jaman kecil aku sudah akrab dengan berbagai dongeng-dongeng seperti cinderella, snow white, little mermaid, aladin, dll, tapi aku juga mengakrabi legenda timun mas, calon arang, legenda tentang batu menangis, dsb. Orang tuaku membiasakanku untuk membaca berbagai macam cerita. Namun, aku sedikit dilarang untuk membeli komik.

Suatu ketika, kami pergi bersama teman papaku beserta keluarganya. Saat kami mampir di sebuah toko buku, anak-anak teman papa itu membeli beberapa komik, sedangkan aku dan adikku membeli buku tentang Walisongo. Om Salim, teman papa, sedikit heran kenapa anak-anak seumurku dan adikku, ketika itu aku masih sd, dan adikku masih tk, mau membaca cerita tentang Walisongo.

Banyak keuntungan yang aku dapatkan dari hobi membacaku. Ketika di sekolah dasar, aku sudah hafal sebagian besar cerita Nabi dan Rasul, sehingga aku selalu bisa mengerjakan soal-soal agama yang berhubungan dengan cerita Nabi dan Rasul. Banyak teman-teman yang memintaku untuk bercerita tentang Nabi dan Rasul. Menurut mereka, ceritaku lebih mudah diingat daripada mereka membaca di buku pelajaran.

Hobi membacaku semakin terlihat ketika aku kelas 3 sd. Ketika itu mama membelikanku seri Lima Sekawan. Awalnya memang aku kurang tertarik, karena didalam buku itu tidak ada ilustrasi gambar sama sekali, sangat berbeda dengan buku-buku yang sebelumnya aku baca. Namun mama meyakinkanku bahwa itu adalah buku yang sangat bagus. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, aku membeli buku itu.

Dari yang awalnya kurang tertarik, semakin aku baca, imajinasiku semakin masuk dalam cerita. Lima sekawan menceritakan tentang petualangan empat saudara dan anjing mereka. Dalam imajinasiku, aku benar-benar serasa ikut dalam semua petualangan mereka. Seri Lima Sekawan yang pertama aku miliki berjudul "Menyamarkan Teman".

Aku selalu membawa buku itu kemana-mana. Bahkan aku hingga lupa makan karena terlalu asyik membaca buku itu. Tidak jarang orangtuaku memarahi karena hal itu. Aku tidak bisa menutup buku bila cerita yang aku baca belum selesai.

Suatu hari, papaku membawa pulang belasan buku seri favoritku itu. Saat itu aku seperti orang yang menemukan harta karun. Terkadang walaupun buku itu sudah selesai aku baca, aku akan membacanya kembali dari awal.

Aku teringat, ketika itu aku sudah kelas 5, aku membaca di koran tentang buku baru yang menggemparkan dunia, Harry Potter. Aku meminta pada papaku agar membelikanku buku itu. Awalnya papaku tidak mau membelikannya. Tidak lama setelah itu, aku terkena gejala Thypus dan dirawat di Rumah Sakit. Beberapa hari aku dirumah sakit, tiba-tiba papa membelikanku Buku Harry Potter. Tidak tanggung-tanggung, dua seri sekaligus dibelikannya untukku. Buku-buku itu yang membantu memberi semangat untuk cepat sembuh, supaya secepatnya aku bisa membacanya.

Aku selalu merawat buku-bukuku dengan baik. Bagiku buku rusak lebih membuatku sedih daripada kehilangan barang lainnya. Setelah aku masuk sekolah lagi, aku dan teman-temanku membuat rencana untuk menyewakan buku-buku kami. Harapan kami, agar semua teman-teman sekelas juga menjadi gemar membaca, dan juga untuk menambah uang saku kami.

Awalnya usaha kecil kami sangat maju dengan pesat. Terutama buku-buku milikku, teman-teman hingga rela mengantri untuk meminjam buku-buku itu. Buku-buku milikku pribadi hampir tidak pernah ada padaku. Selama sebulan itu, uang yang kami dapatkan cukup banyak.

Namun hal yang paling aku sesali, setelah semua buku kembali padaku, hampir semuanya rusak. Beberapa cover sobek, beberapa halaman dalamnya terlipat-lipat. Saat itu aku merasa hatiku sangat sesak. Ingin marah, tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Beberapa teman yang kutanya selalu menjawab tidak tahu. Memang itu adalah kesalahanku. Aku kurang mengecek bila buku itu kembali padaku. Aku kira teman-temanku bisa memperlakukan buku seperti aku memperlakukan buku-bukuku.

Mungkin bagi beberapa orang, buku hanyalah lembaran kertas yang tidak penting. Namun bagiku buku itu seperti sahabatku sendiri.


Rabu, 16 April 2014

Goresan Luka Hati -3


Akhirnya Dewangga benar-benar kembali ke Indonesia, setelah bertahun-tahun menimba ilmu dan mendulang emas di negeri orang. Saat ini hanya satu orang yang benar-benar ia rindukan.

Bahkan setelah bertahun-tahun Dewangga berusaha menghilang dari hidupnya, gambaran wajahnya selalu terbayang, tersimpan rapat dalam otak dan hatinya. Dewangga termenung. Mengingat gadis yang sudah bertahun-tahun mencuri hatinya dengan sangat telak.

“Pak, kita ke jalan Gading dulu ya,” ucapnya pada Pak Anto, supir keluarga yang menjemputnya di bandara.

Sekembalinya ke kota kelahirannya, hal pertama yang dilakukan Dewangga adalah mencari Riani. Ia butuh melihatnya, walaupun hanya sekilas. Tidak pernah ada seorang wanita pun yang sanggup mengikis perasaannya untuk Riani. Beberapa kali ia menjalin hubungan yang cukup dekat dengan wanita lain, tapi tidak pernah bertahan lama karena Dewangga tidak bisa bersikap layaknya kekasih pada mereka.

Rumah Riani ada di pinggir jalan raya, sehingga memudahkannya bila ingin melihatnya tanpa bertemu langsung dengan Riani. Mungkin sikapnya ini sudah seperti orang psikopat, tapi ia tidak peduli. Dewangga meminta pak Anto untuk menepi di dekat warung di seberang rumah Riani. Ia mengambil kameranya, mempersiapkannya bila Riani muncul. Hari minggu seperti ini, ia yakin Riani pasti ada dirumah. Dia adalah tipe wanita rumahan.

Tiba-tiba ia melihat seseorang keluar dari rumah itu sembari menenteng penyiram tanaman. Ia merasakan jantungnya berdegup sangat cepat, sudah bertahun-tahun ia tidak melihatnya, dan sekarang ia ada di depan matanya. Dia tetap secantik yang  ia ingat. Bola matanya yang hitam, hidungnya yang mungil, tatapannya yang sanggup mengiris-iris hatinya. Senyumnya yang bisa membuat semua masalah Dewangga seperti menghilang. Namun memang, selama ia mengenalnya, sangat jarang senyuman manis itu terpasang di wajahnya. Hanya matanya yang berkaca-kaca yang menandakan kesedihannya yang sering terlihat di wajahnya. Ia memang hanya bisa melihatnya dari jauh, namun itu sudah cukup bagi Dewangga untuk mengobati rindunya.

Riani, apakah sekarang kamu sudah bisa memaafkanku? tanyanya lirih dalam hati.

**

Sudah beberapa minggu ini Riani berangkat dan pulang bersama Kevin dan papanya, Ian. Riani semakin salut pada usaha Ian untuk membagi waktunya untuk Kevin dan pekerjaannya. Sesibuk apapun, ia akan selalu meluangkan waktunya untuk Kevin. Ia tidak ingin insiden yang menimpa Kevin dulu terulang lagi. Sebenarnya Riani risih selalu merepotkan Ian, tetapi Kevin benar-benar tidak membiarkan Riani sendiri.

Eyang dan mama juga sudah mengenal Kevin. Tidak jarang Kevin datang kerumah Riani dan bermain-main dengan mereka. Semenjak mengenal Kevin, mama terlihat lebih bahagia dan jarang melamun lagi. Mungkin kehadiran Kevin jauh lebih ampuh dibandingkan obat anti depresi apapun bagi mama.

Hari minggu ini seperti biasanya Riani habiskan dengan bersantai di rumah. Ia tidak terlalu senang untuk pergi keluar, kecuali pergi ke bioskop dan toko buku. Riani memang penggemar berat film dan buku. Kedua hobi dimana ia benar-benar bisa masuk ke dalam dunia imajinasi, membayangkan memiliki kehidupan-kehidupan luar biasa seperti di dalam film atau buku. Bukannya tidak mensyukuri kehidupannya, tetapi ada kalanya ketika ia merasa jenuh pada hidupnya, Riani bisa melampiaskannya dengan imajinasi-imajinasinya.

Semua proses dalam hidupnya mengajarkan Riani untuk menerima dan bersyukur. Masih banyak orang-orang yang mengalami proses kehidupan dengan lebih keras. Setidaknya diluar bayang-bayang kelam dulu, Riani masih memiliki orang-orang yang menyayanginya, dan ia akan melakukan apapun untuk melindungi mereka.

Riani sangat suka berkebun. Menanam bibit-bibit tanaman, menyiraminya, melihat pertumbuhan tanaman-tanamannya, mungkin seperti melihat pertumbuhan anaknya besok. Riani sedang menyirami tanaman sembari bersenandung pelan ketika melihat mobil mewah yang berhenti di seberang rumahnya. Ia merasa seperti ada seseorang sedang mengawasi rumahnya. Riani menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya ia berpikir berlebihan.

**

Kevin menggandeng tangan Riani begitu erat. Ia terlihat sedikit ketakutan berada di dalam bus kota. Riani merasakan tangan Kevin sedikit gemetaran, ia pun mengusap tangan kecil Kevin perlahan untuk menenangkannya.

Tadi pagi Ian mengatakan bahwa siang ini ia akan mengikuti sebuah rapat yang sangat penting sehingga ia akan menyuruh supirnya untuk menjemput Riani dan Kevin. Riani pun menawarkan diri untuk mengantar Kevin pulang dan meminta ijin pada Ian untuk memberikan sedikit pengalaman pada Kevin untuk pulang dengan bus kota.

“Kevin belum pernah kan naik bus kota?”

“Belum pernah, Bu.”

“Naik bus itu enak lho Kevin, kita bisa bertemu dengan banyak orang. Bahkan ibu pernah mendapatkan teman ketika ibu naik bus kota ini.”

Kevin terdiam, “Kevin takut kalau ketemu orang jahat, Bu,” Kevin menjawab lirih.

Riani tersenyum. Ia pun dulu pernah merasa ketakutan bila bertemu orang-orang baru. Terkadang perasaan takut itu masih sering muncul. Namun ia semakin belajar untuk mengendalikannya.

“Di dunia ini, sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar jahat, Kevin. Kita harus benar-benar mengenal mereka dulu, baru kita berhak menilai seorang itu jahat atau baik.”

Kevin pun mengangguk-angguk, “Tapi dari pertama aku liat Bu Riani, aku langsung tahu kalau Ibu itu baik,ujarnya sembari menyandarkan kepalanya pada lengan Riani.

Riani melirik Kevin, sepertinya Kevin benar-benar sudah mengantuk. Sebentar saja ia sudah tertidur lelap. Sebenarnya Kevin ini mengingatkannya pada seorang teman masa kecilnya. Satu-satunya anak lelaki yang pernah menjadi sahabatnya. Namun ternyata sahabatnya itulah yang menjadi salah satu penyebab traumanya. Tidak hanya sekali waktu Riani teringat padanya. Sebenarnya ia ingin bertemu lagi dengannya, tetapi Riani tidak tahu apakah ia akan sanggup bila suatu saat benar-benar bertemu ia lagi. Dewangga, laki-laki yang sangat ia benci, tetapi juga diam-diam ia rindukan.

Part- 2
Part-4