Selasa, 25 Maret 2014

Goresan Luka Hati- 2


          “Hari ini pelajaran kita sampai di sini dulu ya anak-anak. Besok kita ketemu lagi. Tugasnya tolong dikerjakan, jadi besok bisa dikumpulkan ke Ibu,ujar Riani sembari memandangi wajah-wajah polos muridnya. Mereka adalah anak-anak yang memiliki pengendalian emosi yang kurang baik. Sama sepertinya dulu. Akibat kontrol emosi yang kurang itu, mereka kesulitan untuk berinteraksi dengan lingkungannya.


            Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga broken home, walaupun tidak semua anak yang berasal dari broken home akan memiliki kontrol emosi yang tidak baik. Biasanya mereka merasa tidak diterima oleh lingkungan sekitar mereka sehingga mereka cenderung merasa rendah diri dan menutup diri.

Perlu waktu bagi Riani untuk dapat diterima oleh mereka. Namun sekarang, mereka sudah bisa berinteraksi lebih baik dengannya. Mungkin karena Riani dulu memiliki problem yang kurang lebih sama dengan mereka, sehingga sedikit banyak dia memahami pola pikir mereka.

“Iya Bu, selamat siang Bu,” ucap mereka.

Beberapa tahun yang lalu pada masa-masa kelamnya, Riani bertemu dengan Ibu Janis, pemilik sekolah ini. Itu adalah saat pertama kali Riani bisa merasa nyaman ada di dekat orang yang baru ia kenal. Rasanya seperti ia sudah mengenalnya selama hidupnya, ia pun seperti sangat memahami Riani.

Beliau bercerita tentang anak semata wayangnya yang sudah tiada. Anaknya mengalami kecenderungan untuk selalu membenci dirinya sendiri dan beranggapan tidak diterima oleh orang lain. Awalnya Bu Janis tidak terlalu memerhatikan sikap anaknya. Beliau dulu merupakan wanita karier yang sukses sehingga kurang memerhatikan keluarganya. Namun, suatu ketika anaknya mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Semenjak itu, Bu Janis berhenti dari pekerjaannya dan mulai menjadi ibu rumah tangga secara total. Sayangnya, semua upaya Bu Janis sudah terlambat.

Bu Janis dan suaminya mendirikan sekolah ini karena mereka mengerti bahwa ada beberapa anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus sehingga memerlukan pendidikan khusus pula. Sekolah yang terdiri dari TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB ini merupakan sekolah luar biasa terlengkap dan terbesar di kota ini, Semarang.

Bu Janis mengajak Riani untuk melihat-lihat sekolah ini. Riani terpana melihat murid-murid di sini, di mana mereka adalah anak-anak yang memiliki semangat berjuang yang sangat tinggi. Bahkan banyak dari mereka yang berhasil menjuarai berbagai kompetisi hingga internasional. Semenjak itu, setiap kali Riani merasa emosinya mulai meluap, ia selalu datang ke sekolah ini. Sepertinya hal itu berhasil menjadi terapinya.

Riani merasa mendapatkan tempat di sekolah ini. Semenjak ia kecil, Riani tidak memiliki banyak teman. Teman-teman sekolahnya selalu menjauhinya karena mereka mengetahui siapa mamanya. Orang tua mereka pun selalu melarang anak-anak mereka bergaul dengannya. Tidak jarang mereka menjahilinya dengan segala macam hal yang mungkin hanya bisa dilihat orang lain di sinetron. Hal itu yang menjadi penyebab Riani selalu menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Riani selalu memendam amarahnya pada semua orang, dan melampiaskannya pada keluarganya.

Tidak jarang Riani dikeluarkan dari sekolah karena lebih sering membolos daripada masuk kelas. Eyangnya selalu memindahkannya ke sekolah lain, tapi pola tersebut selalu terjadi. Mungkin orang-orang mengira anak kecil adalah makhluk paling lugu di dunia ini. Padahal kenyataannya, mereka mulai membully Riani sejak ia masih bersekolah di sekolah dasar.

Ada seorang anak laki-laki yang sudah Riani kenal sejak ia kecil. Awalnya ia dan Riani adalah teman yang sangat dekat. Namun, ia mulai berubah ketika mereka masuk ke sekolah dasar. Bahkan ia menjadi pemimpin kelompok anak-anak yang selalu mengasari Riani. Ia dan teman-temannya beranggapan bahwa anak dari seorang wanita gila tidak berhak bersekolah di tempat yang sama dengannya. Apabila ada seorang anak yang mulai berteman dengan Riani, ia dan kelompoknya akan mulai mengganggu anak itu hingga anak itu tidak mau berteman dengan Riani lagi. Anak laki-laki itulah yang menjadi alasan Riani mulai tidak menyukai sekolah hingga akhirnya ia berkali-kali pindah sekolah.

Hingga akhirnya Riani lulus SMP dan masuk ke SMA negeri yang cukup baik, ia bertemu lagi dengan anak laki-laki itu. Riani kira sikapnya akan berubah apabila ia sudah menjadi lebih dewasa. Nyatanya sikapnya semakin parah. Adakalanya semua hal itu begitu berat Riani rasakan, hingga ia pernah berusaha untuk membunuh dirinya sendiri. Namun, untungnya Riani masih diberikan kesempatan untuk hidup.

“Bu Riani,” terdengar suara kecil memanggilnya dari belakang.

Eh, Kevin, kok belum pulang?”

“Iya Bu, masih nunggu papa jemput. Katanya papa baru selesai meeting, makanya telat jemput aku.”

“Oh begitu. Ya sudah ibu temenin kamu nunggu papa Kevin ya.”

“Makasih ya Bu, nanti aku kenalin sama papa yang paling cakep sedunia. Hehehe,ujar Kevin sambil tertawa.

Riani tersenyum mendengar jawabannya.

Kevin adalah salah satu anak yang paling dekat dengannya. Ibunya sudah meninggal. Dulu ibunya pernah mengalami gangguan kejiwaan seperti mama Riani. Riani mendengar cerita dari Bu Janis. Awalnya Kevin bersekolah di sekolah dasar umum. Namun, ia pun sering mendapatkan perlakuan kasar dan tidak bersahabat dari teman-temannya. Sampai akhirnya ia pun membalas perlakuan kasar tersebut dengan memukul temannya. Sejak itu keluarga Kevin baru menyadari Kevin membutuhkan bantuan khusus untuk mengontrol emosi dan sikapnya.

Bu Janis sering berkelakar ingin menjodohkan Riani dengan papa Kevin. Katanya papa Kevin merupakan orang yang paling cocok untuk menjadi jodohnya kelak. Riani tidak pernah menanggapi perkataan Bu Janis karena sampai sekarang ia belum pernah memikirkan tentang pasangannya kelak. Ada beberapa ketakutan bila berhubungan dengan lawan jenis.

“Nah itu papa udah sampai, Bu,ucap Kevin

Ia melihat seseorang keluar dari mobil dan berjalan menghampiri mereka.

“Papa, ini Bu Riani.”

“Selamat siang Bu Riani, perkenalkan saya Ian, papanya Kevin,ujarnya sambil mengulurkan tangan.

“Selamat siang Pak Ian. Senang bertemu dengan Bapak.”

Riani seringkali merasa canggung dan gugup bila berbicara dengan lawan jenis. Sehingga ia selalu menjaga jarak dari teman laki-laki. Ia lebih suka mengamati mereka dari jauh. Memperhatikan berbagai sikap dan tingkah laku para lelaki. Namun, pembawaan Ian yang tenang dengan tatapan mata yang tajam malah membuat Riani sedikit salah tingkah.

“Bu Riani, pulang bareng aku aja yuk. Jadi aku kan bisa tahu rumahnya Ibu,pinta Kevin.

“Eh jangan Kevin, rumah ibu jauh.”

“Nggak apa-apa Bu Riani, mari saya antar pulang sekalian. Supaya Kevin juga senang bisa mengetahui rumah Ibu.”

“Eh, tapi...

“Ayo Bu, pokoknya ibu harus mau.” Kevin menggandeng Riani mengajak masuk ke mobilnya.

Di sepanjang jalan, Riani dan Ian lebih banyak diam. Hanya terdengar suara Kevin yang sibuk bercerita tentang harinya di sekolah. Tak lama, Kevin pun tertidur. Perjalanan pulang tidak pernah terasa selama dan sesunyi ini.

“Saya panggil Riani saja boleh?”

Riani menoleh ke arahnya, “Eh, eh boleh Pak Ian,” jawabnya sedikit tergagap.

“Ah, sepertinya panggil Ian saja cukup, Riani. Saya belum cukup tua untuk dipanggil Bapak,ucapnya sambil terkekeh.

“Saya sering mendengar cerita tentang kamu dari Kevin, dan juga Mbak Janis. Saya tidak pernah mengira ada seseorang sehebat kamu di dunia ini.”

“Ah, anda terlalu memuji saya, Ian. Bu Janis lah yang telah membentuk saya menjadi seperti ini. Saya tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa saya bila tidak bertemu dengan Bu Janis.”

“Namun saya yakin, kamu tetap akan menjadi wanita yang hebat Riani.”

Riani tersipu mendengar ucapannya. Menurutnya aku wanita yang cukup hebat? Ah, itu hanya karena dia belum mengenalku, pikir Riani.

“Papa, sudah sampai rumah Bu Riani belum?” terdengar suara Kevin dari kursi belakang.

“Sebentar lagi sampai, Kevin, itu rumah ibu sudah kelihatan dari sini.”

“Pa, aku punya ide, gimana kalo setiap hari kita anter jemput Bu Riani, kan rumahnya juga deket sama rumah kita. Deal?”

“Deal, Kevin,sahut Ian sambil bersalaman dengan tangan mungil Kevin.

“Wah jangan Kevin, Ibu tidak mau merepotkan.”

“Tidak merepotkan kok Riani. Tenang saja. Kamu tidak ingin membuat Kevin sedih kan dengan menolak permintaan kecilnya?”

Riani terdiam. Menyadari ia sudah kalah suara dari mereka berdua, dan memang Riani tidak pernah bisa menolak permintaan dari anak-anak.