Senin, 18 Agustus 2014

Goresan Luka Hati- 4

Sudah beberapa waktu, teman-teman Riani sesama guru mulai menggodanya. Mereka menanyakan hubungannya dengan Ian. Riani hanya menanggapi dengan tersenyum. Ia memang hanya menganggap Ian sebagai teman baru yang kebetulan juga ayah muridnya.

Riani mengakui bahwa Ian memang seorang pria yang akan menjadi idaman banyak wanita. Sikapnya yang sedikit dingin, tetapi akan berubah hangat bila bersama Kevin, dengan pembawaan yang tenang akan membuat banyak wanita bertekuk lutut untuknya. Namun, Riani bukan salah satu dari wanita-wanita itu.

Ia dengan halus berusaha meminta Ian untuk tidak lagi menuruti permintaan Kevin dengan mengantar jemputnya lagi. Ian pun memakluminya. Ian mengerti bahwa Riani tidak ingin merasa sungkan dengan teman-temannya.

Ian selalu terpesona untuk semua hal tentang Riani. Baginya, Riani adalah pribadi yang sangat unik dan spesial. Ia pun tahu bagaimana dalamnya rasa sayang Kevin untuk Riani. Semenjak kematian Kinan, istrinya, ia tidak pernah terpikir untuk mencari ibu baru untuk Kevin. Apalagi Kevin bukanlah anak yang mudah untuk dekat dengan seseorang yang baru dikenalnya.

Ting tong

Lamunannya terhenti mendengar suara bel rumahnya. Ia mendengar tawa mamanya ketika membukakan pintu.  Ia mengernyit, berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamunya.

“Mas Ian,” Dewangga berseru sembari memeluk Ian.

“Kamu itu, sampe di Indonesia, yang ditelepon bukan Mas atau Mama, tapi malah Pak Anto,gerutu Ian.

Dewangga tertawa pelan. “Wah Pak Anto ini, udah dibilangin jangan bilang Mas dulu, tapi malah langsung bilang.”

“Dasar kamu, Ngga. Mama sampe bingung, tapi Masmu bilang mama pura-pura nggak tahu aja. Katanya nanti juga kamu bakal pulang sendiri,” Mama mencubit lengan Dewangga pelan.

Dewangga terkekeh memandang mama dan kakaknya, ia memang merasa bersalah tidak langsung pulang setibanya di Semarang. Dewangga bekerja sebagai fotografer profesional. Ia sering berkeliling pelosok dunia untuk mencari obyek unik untuk difoto. Tidak jarang hasil jepretannya masuk ke majalah-majalah internasional.

**

             Dewangga memandangi foto-foto Riani dalam laptopnya. Ia suka memotret Riani diam-diam ketika mereka masih satu sekolah. Dewangga membandingkan foto wajah Riani dulu dan foto yang baru ia ambil beberapa hari lalu di depan rumah Riani. Wajah Riani memang tidak terlalu banyak berubah, tetap hanya dengan polesan kosmetik yang sangat tipis, tetapi sanggup menambah pesona wajahnya tanpa terlihat berlebihan.
        
           Suara ketukan pelan terdengar dari luar pintunya. Ia berjalan untuk membukakan pintunya dan melihat Ian yang ada di balik pintu.
          
            “Ngga, kita makan malam di luar, untuk menyambut kepulangan kamu.”

            “Besok aja mas, aku udah ngantuk nih,gerutu Angga.

            “Sepuluh menit lagi kita berangkat,” ucap Ian sembari berjalan menjauhi kamar Dewangga.

           Dewangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Ian tetap Ian yang seperti dulu. Ian yang kaku dan suka memaksakan kehendaknya, tetapi kakaknya adalah seorang yang berjuang demi keluarga yang dicintainya. Ian harus mengambil alih perusahaannya di usia yang sangat muda ketika ayah mereka meninggal dunia. Itulah yang menyebabkan Ian seringkali bersikap kaku dan keras. Padahal dulu Ian juga pribadi yang hangat dan menyenangkan. Sekarang ia hanya sanggup bersikap hangat pada orang-orang yang ia sayangi.

**

            Riani melihat mobil sport berwarna putih terparkir didepan rumahnya. Ia tersenyum, sudah lama ia tidak bertemu Ishana, satu-satunya sahabat yang ia miliki. Tiba-tiba seseorang berlari dan memeluknya erat.

            “Riani, ternyata aku kangen banget sama kamu,ucap Ishana.

            “Hahahaha, kamu sih liburan kelamaan.”

            “Liburan apaan. Itu kerja Riani, kerja rodi malah,sungut Ishana.

            Riani tertawa melihat sikap Ishana. Ishana seperti saudara perempuan yang tidak pernah dimilikinya. Mereka mulai dekat ketika Riani pindah sekolah ke sekolah Ishana. Saat itu mereka sudah kelas 2 SMA.

            Ishana tidak pernah menyerah untuk mendekati Riani walau sekeras apapun Riani berusaha menjauh. Ia adalah satu-satunya teman yang membelanya ketika teman-teman mereka melakukan hal-hal yang buruk pada Riani. Ishana dan Riani, sepasang sahabat dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang.



Part-3
Part-5