Selasa, 11 Maret 2014

Goresan Luka Hati -1


Hampir setiap pagi Riani dimulai oleh mimpi buruk itu lagi. Dia menyeka keringat dari dahinya. Walaupun sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, tapi mimpi itu masih terasa sangat nyata.

Riani melirik jam bekernya, waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Dia segera turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Perasaannya menjadi jauh lebih baik apabila sudah melaksanakan kewajibannya.

Selesai mandi ia melihat eyang putri sudah sibuk di dapur. Eyang putrinya memang menjadi pengganti orangtuanya. Beliau selalu berusaha memberikan apapun yang Riani butuhkan. Ingatan sikapnya bertahun-tahun yang lalu membuatnya menghela nafas. Dulu dia sempat menjadi cucu yang sangat nakal dan kurang ajar pada eyang tersayangnya. Riana teringat ketika eyang kakungnya masih ada di sampingnya, mereka sangat menyayanginya walaupun sejelek apapun sikap Riani. Setiap hari eyang kakung mengantar jemputnya ke sekolah dengan jeep kesayangannya. Mereka tidak pernah memedulikan diri mereka sendiri. Riani memang sangat menyayangi mereka, tapi dia tidak bisa menahan letupan emosi tinggi yang seringkali dia rasakan. Riani sering berteriak-teriak, melempar barang-barang, bahkan tidak jarang membentak-bentak mereka apabila mereka tidak melakukan hal-hal yang Riani inginkan. Semua pelampiasan amarahnya kepada semua orang selalu dia tujukan kepada mereka. Tidak jarang eyang putri dan eyang kakung menangis, karena memang pada saat itu dia sangat kelewat batas.

Enam tahun yang lalu merupakan tamparan yang sangat keras bagi Riani. Eyang kakung meninggal dunia akibat sakit jantung. Sejak itu Riani berusaha sangat keras untuk berubah lebih baik. Dia  tidak ingin semakin membebani eyang putrinya. Namun, hal itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

“Riani, ngapain ngelamun disitu?” tanya eyang.

Riani tersadar dari lamunannya.

“Oh nggak Yang. Eyang kok pagi-pagi udah repot?”

“Ya nggak lah. Masak kayak gini aja repot. Oh iya, tolong bangunin mamamu ya, Ri.”

“Iya Eyang.”

Riani berjalan menuju kamar mama. Dia membuka pintu kamarnya, melihat mama masih tidur di balik selimutnya. Riani sangat bersyukur mamanya sanggup bertahan dari kejadian-kejadian dulu itu. Walaupun ada goresan luka yang sulit untuk disembuhkan. Luka di hatinya.

Akibat kejadian-kejadian itu, Niken, mama Riani menderita sakit akibat tekanan mentalnya. Beberapa kali mama keluar masuk rumah sakit jiwa supaya bisa sembuh. Walaupun tidak bisa sembuh seperti dulu, Riani sangat bersyukur tidak kehilangan mamanya.

“Mama, bangun yuk ma. Eyang udah nyiapin sarapan tuh.”

“Eh Riani sayang, kamu udah bangun. Yaudah mama mau mandi dulu ya.”

Riani pun keluar dari kamar mama, aroma masakan sudah menguar dari dapur.

“Riani, ayo cepat makan dulu. Jangan sampai nanti terlambat masuk kerja,ujar Eyang.

Sudah satu tahun ini Riani mengajar di Sekolah Luar Biasa Bhakti Bangsa. Sekolah yang memang benar-benar luar biasa, dengan anak didik yang luar biasa dan tenaga pengajar yang luar biasa. Di sana, setiap hari Riani selalu mendapatnya pelajaran kehidupan yang baru.


Mereka, para pengajar di SLB Bhakti Bangsa selalu berusaha agar anak didiknya, selalu mendapatkan yang terbaik, yang tidak bisa didapatkan di sekolah umum biasa. Hal-hal terbaik yang tidak Riani dapatkan ketika dia bersekolah.