Rabu, 16 April 2014

Goresan Luka Hati -3


Akhirnya Dewangga benar-benar kembali ke Indonesia, setelah bertahun-tahun menimba ilmu dan mendulang emas di negeri orang. Saat ini hanya satu orang yang benar-benar ia rindukan.

Bahkan setelah bertahun-tahun Dewangga berusaha menghilang dari hidupnya, gambaran wajahnya selalu terbayang, tersimpan rapat dalam otak dan hatinya. Dewangga termenung. Mengingat gadis yang sudah bertahun-tahun mencuri hatinya dengan sangat telak.

“Pak, kita ke jalan Gading dulu ya,” ucapnya pada Pak Anto, supir keluarga yang menjemputnya di bandara.

Sekembalinya ke kota kelahirannya, hal pertama yang dilakukan Dewangga adalah mencari Riani. Ia butuh melihatnya, walaupun hanya sekilas. Tidak pernah ada seorang wanita pun yang sanggup mengikis perasaannya untuk Riani. Beberapa kali ia menjalin hubungan yang cukup dekat dengan wanita lain, tapi tidak pernah bertahan lama karena Dewangga tidak bisa bersikap layaknya kekasih pada mereka.

Rumah Riani ada di pinggir jalan raya, sehingga memudahkannya bila ingin melihatnya tanpa bertemu langsung dengan Riani. Mungkin sikapnya ini sudah seperti orang psikopat, tapi ia tidak peduli. Dewangga meminta pak Anto untuk menepi di dekat warung di seberang rumah Riani. Ia mengambil kameranya, mempersiapkannya bila Riani muncul. Hari minggu seperti ini, ia yakin Riani pasti ada dirumah. Dia adalah tipe wanita rumahan.

Tiba-tiba ia melihat seseorang keluar dari rumah itu sembari menenteng penyiram tanaman. Ia merasakan jantungnya berdegup sangat cepat, sudah bertahun-tahun ia tidak melihatnya, dan sekarang ia ada di depan matanya. Dia tetap secantik yang  ia ingat. Bola matanya yang hitam, hidungnya yang mungil, tatapannya yang sanggup mengiris-iris hatinya. Senyumnya yang bisa membuat semua masalah Dewangga seperti menghilang. Namun memang, selama ia mengenalnya, sangat jarang senyuman manis itu terpasang di wajahnya. Hanya matanya yang berkaca-kaca yang menandakan kesedihannya yang sering terlihat di wajahnya. Ia memang hanya bisa melihatnya dari jauh, namun itu sudah cukup bagi Dewangga untuk mengobati rindunya.

Riani, apakah sekarang kamu sudah bisa memaafkanku? tanyanya lirih dalam hati.

**

Sudah beberapa minggu ini Riani berangkat dan pulang bersama Kevin dan papanya, Ian. Riani semakin salut pada usaha Ian untuk membagi waktunya untuk Kevin dan pekerjaannya. Sesibuk apapun, ia akan selalu meluangkan waktunya untuk Kevin. Ia tidak ingin insiden yang menimpa Kevin dulu terulang lagi. Sebenarnya Riani risih selalu merepotkan Ian, tetapi Kevin benar-benar tidak membiarkan Riani sendiri.

Eyang dan mama juga sudah mengenal Kevin. Tidak jarang Kevin datang kerumah Riani dan bermain-main dengan mereka. Semenjak mengenal Kevin, mama terlihat lebih bahagia dan jarang melamun lagi. Mungkin kehadiran Kevin jauh lebih ampuh dibandingkan obat anti depresi apapun bagi mama.

Hari minggu ini seperti biasanya Riani habiskan dengan bersantai di rumah. Ia tidak terlalu senang untuk pergi keluar, kecuali pergi ke bioskop dan toko buku. Riani memang penggemar berat film dan buku. Kedua hobi dimana ia benar-benar bisa masuk ke dalam dunia imajinasi, membayangkan memiliki kehidupan-kehidupan luar biasa seperti di dalam film atau buku. Bukannya tidak mensyukuri kehidupannya, tetapi ada kalanya ketika ia merasa jenuh pada hidupnya, Riani bisa melampiaskannya dengan imajinasi-imajinasinya.

Semua proses dalam hidupnya mengajarkan Riani untuk menerima dan bersyukur. Masih banyak orang-orang yang mengalami proses kehidupan dengan lebih keras. Setidaknya diluar bayang-bayang kelam dulu, Riani masih memiliki orang-orang yang menyayanginya, dan ia akan melakukan apapun untuk melindungi mereka.

Riani sangat suka berkebun. Menanam bibit-bibit tanaman, menyiraminya, melihat pertumbuhan tanaman-tanamannya, mungkin seperti melihat pertumbuhan anaknya besok. Riani sedang menyirami tanaman sembari bersenandung pelan ketika melihat mobil mewah yang berhenti di seberang rumahnya. Ia merasa seperti ada seseorang sedang mengawasi rumahnya. Riani menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya ia berpikir berlebihan.

**

Kevin menggandeng tangan Riani begitu erat. Ia terlihat sedikit ketakutan berada di dalam bus kota. Riani merasakan tangan Kevin sedikit gemetaran, ia pun mengusap tangan kecil Kevin perlahan untuk menenangkannya.

Tadi pagi Ian mengatakan bahwa siang ini ia akan mengikuti sebuah rapat yang sangat penting sehingga ia akan menyuruh supirnya untuk menjemput Riani dan Kevin. Riani pun menawarkan diri untuk mengantar Kevin pulang dan meminta ijin pada Ian untuk memberikan sedikit pengalaman pada Kevin untuk pulang dengan bus kota.

“Kevin belum pernah kan naik bus kota?”

“Belum pernah, Bu.”

“Naik bus itu enak lho Kevin, kita bisa bertemu dengan banyak orang. Bahkan ibu pernah mendapatkan teman ketika ibu naik bus kota ini.”

Kevin terdiam, “Kevin takut kalau ketemu orang jahat, Bu,” Kevin menjawab lirih.

Riani tersenyum. Ia pun dulu pernah merasa ketakutan bila bertemu orang-orang baru. Terkadang perasaan takut itu masih sering muncul. Namun ia semakin belajar untuk mengendalikannya.

“Di dunia ini, sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar jahat, Kevin. Kita harus benar-benar mengenal mereka dulu, baru kita berhak menilai seorang itu jahat atau baik.”

Kevin pun mengangguk-angguk, “Tapi dari pertama aku liat Bu Riani, aku langsung tahu kalau Ibu itu baik,ujarnya sembari menyandarkan kepalanya pada lengan Riani.

Riani melirik Kevin, sepertinya Kevin benar-benar sudah mengantuk. Sebentar saja ia sudah tertidur lelap. Sebenarnya Kevin ini mengingatkannya pada seorang teman masa kecilnya. Satu-satunya anak lelaki yang pernah menjadi sahabatnya. Namun ternyata sahabatnya itulah yang menjadi salah satu penyebab traumanya. Tidak hanya sekali waktu Riani teringat padanya. Sebenarnya ia ingin bertemu lagi dengannya, tetapi Riani tidak tahu apakah ia akan sanggup bila suatu saat benar-benar bertemu ia lagi. Dewangga, laki-laki yang sangat ia benci, tetapi juga diam-diam ia rindukan.

Part- 2
Part-4