Jumat, 11 April 2014

OUR LO(ST)VE STORY - Bab I

BAB I

Pertemuan Dengan Dia

“Aduh, mati aku. Hari pembukaan orientasi kok malah bangun kesiangan.”

Aku berlari menyusuri halaman SMA Bina Bangsa Nusantara sembari mencari-cari letak aula besar, tempat diadakannya pembukaan orientasi siswa baru. Ketika kulihat pintu belakang aula, aku menarik nafas dengan lega. Dengan terburu-buru, aku langsung mencari teman-temanku yang sama-sama berhasil masuk ke sekolah paling bergengsi ini.

“Ve, sini cepetan. Sebelum kakak-kakak senior liat.” Panggil Viona.

“Bangun kesiangan lagi ya Ve? Dasar kebiasaan jelek dipelihara terus.” Gerutu Viona.

“Iya nih, parah banget. Untung belum dimulai ya Na.” Sahutku sambil tertawa pelan.

Kakak-kakak senior pun memulai pembukaan orientasi. Mereka membagi kami menjadi sepuluh kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 40 orang. Selama satu minggu orientasi, kami akan selalu bersama-sama dengan teman sekelompok kami. Beruntungnya aku dan teman-temanku sama-sama masuk di kelompok yang sama. Kelompok X.5. Kami pun disuruh mencatat peralatan yang wajib kami pakai selama masa orientasi.

“Jadi gitu ya adek-adek. Udah paham semua kan. Oh iya, jangan lupa, selama masa orientasi, kalian harus sampai depan gerbang sekolah maksimal jam 5 pagi. Sekarang semuanya kumpul sesuai kelompoknya, dan setelah ini masing-masing kelompok menuju ke kelas yang udah ditentukan.”

Setelah semua siswa orientasi sudah berkumpul di kelompoknya masing-masing, kami dituntun beberapa senior menuju kelas. Di depan kelas X.4, aku melihatnya. Sosok yang aku kagumi ketika aku kecil. Mas Titto.

“Ve, kamu masuk sini juga akhirnya. Dapet kelas berapa?” tanyanya.

“Aku kelas X.5, Kak.”

“Oh, sama Kak Mina ya. Aku pembina X.4. Yaudah sana masuk dulu ke kelas.”

Aku tersenyum padanya. Mencoba menutupi debaran jantungnya yang tiba-tiba menggila. Sudah bertahun-tahun, dan pengaruhnya terhadapku tidak pernah hilang.

“Ve, lihat deh pembina kita. Cakepnya selangit ih. Udah tinggi, putih, badannya atletis banget.” Ujar Viona.

“Ih dasar ganjen. Belom tentu juga dia ngelirik kamu. Apalagi sekarang tipe-tipe cowok yang gitu malah kebanyakan naksir cowok juga loh.” Aku tertawa melihat wajah Viona yang ditekuk mendengar perkataanku.

“Selamat pagi adek-adek. Perkenalkan nama saya Steve, dan rekan saya Mina. Selama masa orientasi ini, kami akan menjadi pembina kalian dan kalian menjadi tanggung jawab kami. Ada lagi yang ingin ditanyakan?”

“Perkenalan secara lengkap dong Kak.” Celetuk seseorang yang duduk di pojok belakang.

“Ah, ya. Nama saya Steve, saya kelas XII IA 3. Jabatan saya di OSIS adalah Kasubsie Basket.”

“Selamat pagi adik-adik. Nama saya Mina, kelas XII IS 5. Jabatan saya di OSIS sebagai Kasubsie Modern Dance. Perkenalan dari kami sudah cukup, sekarang perkenalan dari adik-adik ya, maju urut dari yang di pojok depan sebelah kanan. Sebutkan nama, tanggal lahir, alamat rumah, no telepon, dan juga asal sekolah.”

Kami pun maju satu persatu untuk memperkenalkan diri.

“Oke, adik-adik. Sampai ketemu hari Senin ya. Jangan sampe ada yang ketinggalan ya barang-barang yang harus dibawa.”

Kelas pun dibubarkan. Aku segera mengirim pesan pada Rio, sahabatku. Dia berjanji akan menjemputku sepulang sekolah. Aku berjalan menuju gerbang SMA Bina Bangsa NusanTera. Disana aku bertemu dengan teman-teman yang berasal dari sekolah yang sama denganku.

“Ve, kamu belum pulang?” terdengar suara dari belakangku. Aku menoleh mencari asal suara itu.

“Oh, Mas Titto. Eh Kak, belum Kak, aku masih nunggu jemputan.”

“Siapa yang jemput? Apa aku anter pulang sekalian yuk.” Ajaknya.

“Mmm, aku dijemput sama Rio, Kak. Dia udah perjalanan kesini soalnya.”

Aduuuuh, demi semua manusia yang ada di bumi. Aku terpaksa menolak ajakannya. Aku menggigit bibirku, merasa sangat menyesal.

“Kamu masih sama Rio, ya Ve. Pacaran kalian awet banget”.

“Eh, kita nggak pacaran, Kak. Kita sahabatan.”

“Hmm, gitu ya. Itu Rio udah sampe. Hati-hati dijalan ya Ve, aku pulang duluan.”

Aku memandangi kepergiannya. Membayangkan bila aku menerima ajakannya. Mas Titto selalu terasa jauh untuk dijangkau. Aku mengenalnya sejak aku baru pindah ke kota ini kelas 4 SD. Dia adalah teman seantar jemputku dan kakak kelasku ketika SD. Semenjak dulu aku sudah mengaguminya. Dia bukan seseorang dengan wajah yang sanggup melelehkan hati setiap wanita. Namun, entah kenapa dia sanggup menarik perhatianku.

“Ve, kalo ngelamun jangan kelamaan,” Tegur Rio.

Aku berbalik. Melihat Rio di sudah menungguku. Dia pasti juga melihat Mas Titto. Rio adalah sahabatku. Dialah satu-satunya orang yang mengetahui perasaanku pada Mas Titto. Rio dengan sabar selalu mendengarkan semua curhatanku tentangnya. Rumah Mas Titto dekat dengan rumah Rio, seringkali aku sengaja main ke rumah Rio dengan harapan dapat bertemu dengan Mas Titto, dan apabila aku berhasil melihatnya, walau hanya sekilas, aku pasti akan melompat-lompat kegirangan.

“Ayo cepetan pulang Ve, keburu tambah panas nih,” Gerutu Rio.

“Iya..iya bawel banget sih. Nggak tahu apa orang lagi bahagia.”

“Hmm, bahagia gara-gara satu sekolah sama Mas Titto? Bahagia semu tuh namanya.”

“Huh, apaan si Yo, kamu tu memang nyebelin.” Aku memukul lengan Rio pelan.

“Nyebelin, tapi yang paling sayang sama kamu.” Ujar Rio cengengesan.

“Ah udah deh ngegombalnya. Pulang sekarang yuk Pak Ojek. Hehehe.”

“Heh, enak aja tukang ojek. Yaudah tuan putri cepetan naik motorku yang jelek ini ya.”

Aku tertawa dan segera menaiki motornya.

“Jangan lupa pegangannya.”


Kurasakan tangan Rio menarik tanganku, membawa tanganku  pada pinggangnya.