Jumat, 11 April 2014

Our LO(ST)VE Story - BAB II

BAB II
M.O.S

Hari ini sudah hari kedua masa orientasi sekolah. Sejauh ini berjalan dengan lancar. Tugas yang diberikan senior juga tidak terlalu sulit. Walaupun setiap hari aku harus menanggung sedikit malu karena penampilan yang diwajibkan selama orientasi, itu semua sebanding dengan kegembiraanku berhasil masuk ke sekolah ini. Rambut kucir dua dan tas dari karung gandum cukup memperlihatkan bahwa aku seorang anak baru yang sedang di orientasi. Memang kuakui penampilanku dengan rambut kucir dua membuatku terlihat lebih imut, jadi kunikmati saja. Hahaha. Tidak mungkin kan besok-besok aku menguncir dua rambutku lagi. Bisa-bisa aku dianggap sebagai anak yang suka mencari perhatian dan dimusuhi oleh kakak-kakak kelas. 
                
          Selama mos ini, kami diharuskan mencari tandatangan dari semua anak OSIS. Untungnya aku sudah berhasil mendapatkan sebagian besar tandatangan. Ah ya, aku juga belum meminta tandatangan Mas Titto. Kemanapun dia pergi, dia selalu diikuti oleh siswa-siswa baru yang menganggapnya idola baru. Aku tidak menyangka, reputasinya di kalangan siswa baru cukup tinggi, bahkan bersaing dengan Kak Steve, yang merupakan senior tertampan. Mungkin karena jabatannya di OSIS yang cukup tinggi, atau mungkin karena sikapnya yang ramah pada semua orang.
     
                Dua hari ini sebenarnya dia cukup sering memasuki kelasku. Bahkan di setiap waktu istirahat, dia pasti berada di kelasku. Sampai-sampai Kak Yani, pasangan pendampingnya, memarahinya. Terang saja aku merasa sedikit kegeeran akan sikapnya. Namun, aku tidak berani berharap lebih.
     
           Kulirik daftar nama senior milikku. Hanya kurang lima nama lagi, milikku sudah selesai dan dapat dikumpulkan. Kulihat Mas Titto sedang duduk sendirian di depan kelas X.4. aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha menghilangkan semua kegugupanku bila bertemu dengannya.

“Siang Kak, saya bisa minta tandatangannya?” tanyaku sembari tersenyum berusaha menenangkan debaran 
jantungku.

“Eh Ve, ya bolehlah. Oh iya Ve, kalo didepan aku aja, manggil Mas kayak biasanya juga gak papa kok.”

“Oh, nggak papa aku manggil Kakak. Mumpung masih MOS, kalo udah nggak MOS kan gak bisa manggil Kakak lagi. Hehehe.”

Aduuuh apaan sih Ve, ngomong kok aneh gitu, omelku dalam hati.

“Hahaha, kamu bisa aja Ve. Mana sini daftar namamu, aku tandatanganin dulu.”

“Ini kak.” Ucapku sembari menyerahkan daftar namaku. “Emm, Kak, kalo Kak Mini itu yang mana ya?”

“Masak sih kamu nggak tahu Kak Mini? Kak Mini itu nama lengkapnya Kak Tumini. Dia kan yang sering muter-muter kelas.”

Aku memutar mataku. Ya jelaslah aku tidak tahu. Dia selalu mengenalkan diri sebagai Kak Mini. Bahkan nama di seragamnya tertulis Mini. Bukan Tumini.

“Oh, kalo Kak Mini, tahu kok Kak. Yaudah Kak, makasih banget ya.”

“Iya sama-sama. Yaudah abis ini cepetan masuk kelas loh Ve, mau dikasih daftar barang-barang yang perlu kamu bawa besok.”

“Iya Kak. Mari Kak.”

“Ve, masuk kelas yuk.”

Aku menoleh, kulihat Viona berlari-lari kecil kearahku.

“Aku duluan ya Ve,” ucap Mas Titto.

Kupandangi lekat sosok tubuhnya yang perlahan menjauhiku. Jantungku pun masih berdebar-debar dengan kencangnya. Entah sampai kapan dia akan mempengaruhi hingga seperti ini.

***

“Selamat siang semuanya. Untuk besok, ada tugas istimewa untuk kalian. Besok kalian wajib membawa surat cinta yang sudah kalian buat untuk salah satu senior disini. Kalian boleh memilih senior yang ingin kalian berikan surat cinta. Yah, anggap saja ini seperti kesempatan kalian mengungkapkan perasaan pada salah satu senior yang mungkin kalian kagumi. Jangan lupa, wajib disertakan foto kalian yang paling cantik atau cakep menurut kalian.” Ujar Kak Steve.

“Hah, surat cinta? Aduh, aku harus ngasih ke siapa?” ujarku kebingungan.

“Kan banyak pilihan, Ve. Ada kak Steve, kak Tera, mungkin juga bisa ke kak Titto. Oh iya Ve, emangnya kamu udah kenal ya sama kak Titto? Tadi kayaknya udah akrab banget?” tanya Viona

“Oh, kak Titto dulu kakak kelasku waktu SD, Na. Eh, kamu mau ngasih ke siapa? Jangan bilang ngasih ke Kak Steve?” Ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan.

                Aku memang tidak pernah bercerita tentang kak Titto pada siapa pun, kecuali Rio. Menurutku tidak semua orang bisa memahami apa yang kurasakan pada Kak Titto. Disaat teman-temanku sudah memiliki kekasih, aku selalu menolak lelaki yang berusaha mendekatiku. Yah, sekali lagi kecuali Rio. Sejak pertama aku mengenalnya aku sudah merasa nyaman didekatnya. Rio sudah menjadi teman dekatku sejak kelas 1 SMP. Tidak sedikit teman-temanku yang meragukan persahabatan kami.

“Hmm, aku galau deh Ve. Pas awal MOS aku naksir berat sama kak Steve, tapi sekarang aku lebih tertarik ke Kak Tera deh. Kak Tera itu kesannya lebih gimana gitu loh Ve, lebih misterius. Hehehe.”


“Ih dasar ganjen, yaudah sana buat untuk dua-duanya aja daripada bingung.” Ujarku sembari menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Viona.  Aku melihat ke sekelilingku. Ternyata sebagian besar perempuan di kelasku juga terlihat antusias sekaligus kebingungan.